DAYA PRODUKSI DAN PADAT PENEBARAN


A.   Daya Produksi
Untuk mendapatkan produksi ikan yang optimal maka jumlah benih yang ditebar juga harus sesuai dengan kesuburan dan luas kolam, meskipun ada faktor lain yang mempengaruhi seperti suhu, DMA (daya menggabung asam), jenis ikan dan umur benih. Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan produksi kolam dipengaruhi oleh padat penebaran. Hubungan antara ketersediaan makanan alami dan jumlah produksi ikan dalam waktu tertentu inilah disebut daya produksi kolam. Daya produksi kolam dinyatakan dengan rumus legger.

P = Na/10 * B * k

Keterangan :
P   = daya produksi kolam
Na = luas kolam (dalam are, 1 are : 100 m2)
B   = biogenic capacity, yaitu kemampuan kolam menghasilkan makanan alami
k   = angka yang menunjukkan pengaruh fisik kolam, seperti suhu, DMA, pH, umur dan jenis ikan

Biogenic capacity dipengaruhi oleh jumlah makanan alami yang dapat dimakan oleh ikan di perairan. Jenis makanan alami  adalah plankton, epyphyton, perryphyton, dan bentos.

Air yang miskin makanan alami diberi nilai 1 - 3, sedangkan yang cukup diberi nilai 4 – 6, yang kaya 7 – 9. Untuk air yang tidak mengandung makanan sama sekali diberi nilai 0, sedangkan yang paling subur diberi nilai 10.

Koefisien produktivitas (k) adalah kumpulan faktor-faktor lain yang nonbiologis, seperti suhu, pH, DMA, jenis dan umur ikan. Koefisien produktivitas ini dapat dinyatakan dengan angka 5 – 10. Sedangkan makanan alami yang menjadi dasar penilaian kesuburan kolam terdiri dari phytoplankton, zooplankton, epyphyton, perryphyton, dan benthos.

Pengukuran Kandungan Plankton
Untuk mendapatkan nilai B (biogenic capacity) harus dihitung semua jasad renik yang tumbuh di perairan. Penghitungan dilakukan setelah kolam digenangi air selama tiga hari atau seminggu.
Jasad renik berupa plankton dihitung dengan mengukur 1 liter air kolam di 3 tempat (pintu masuk air, tengah kolam, dan pintu pengeluaran). Kemudian tambahkan 0,5-1 cc larutan kalium yodida 10%.
Selanjutnya air didiamkan selama 24 jam sampai plankton mati dan mengendap. Tahap berikutnya, kandungan plankton diukur dengan gelas ukur 100 cc diameter 2,3 cm. Hasil pembacaan endapan plankton :
Hasil Pembacaan (cc)
Skor Plankton
5
3 – 5
1 – 3
1
3
2
1
1/3
Pengukuran Jasad Penempel
Jasad-jasad berupa epy dan perryphyton dihitung dengan perangkap dari 4 papan kayu ukuran 50x50 cm tebal 0,1 cm. Alat ini direntangkan dengan tali dan masing-masing papan diberi pengganjal setebal papan. Bagian atas perangkap diikat pada pelampung, bagian bawah pada batu di dasar kolam.
Perangkap dipasang 1 meter dari tepi di 3 tempat. Setelah 3 hari perangkap diambil dan dikerok jasad penempelnya. Apabila hasil kerokan lebih dari 500 cc diberi nilai 3, 300 – 500 cc nilai 2, 100 – 300 cc nilai 1, dan kurang dari 100 cc nilai 1/3.
Pengukuran Kandungan Benthos
Pengukuran benthos dilakukan dengan cara menghisap lumpur dasar kolam sebanyak 5 cc. Pisahkan jasad renik dari lumpur. Jumlah benthos diukur dengan gelas ukur 10 cc, selanjutnya hasil pengukuran dikali 200 (sebab pengambilan hanya 5 cc).
Hasil Pengukuran (cc)
Skor Benthos
> 500
400 – 500
200 – 400
< 200
3
2
1
1/3

Menentukan Koefisien Produktivitas (k)
Jumlah nilai koefisien produktivitas 5 – 10. Untuk menentukannya diperkirakan nilai masing-masing parameter.
a.  Suhu air
Apabila perbedaan suhu siang dan malam terlalu besar maka nilainya 1, jika tidak terlalu besar nilai 2.
b.  pH
Apabila pH air tidak banyak berubah dalam rentang sehari semalam dinilai 2, jika perubahannya banyak nilainya 1.
c.  DMA (Daya Menggabung Asam)
Daya menggabung asam dapat diukur dengan titrasi HCl 0,1 N dan larutan jingga merah 0,1%. Nilai DMA dihitung berdasarkan volume HCl yang digunakan untuk mengubah warna merah menjadi kuning. DMA sebaiknya 1 – 5. Apabila DMA kurang dari 1 atau lebih dari 5 diberi nilai 1, tetapi jika antara 1 – 5 diberi nilai 2.
d.  Jenis Ikan
Jenis ikan berpengaruh terhadap koefisien produktivitas sebab setiap jenis ikan mempunyai kebiasaan makan berbeda. Untuk parameter perhitungan, bila terjadi kecocokan antara ikan yang ditebar dengan makanan yang tersedia nilainya 2, jika tidak cocok nilai 1.
e.  Umur ikan
Benih muda memiliki pertumbuhan lebih cepat dibandingkan benih tua. Apabila menggunakan benih muda diberi nilai 2, benih tua nilai 1.

B.   Padat Penebaran
Dengan mengetahui nilai P (daya produksi kolam) berarti dapat diketahui produktivitas kolam. Bila daya produksi kolam dibagi dengan pertambahan daging/ekor ikan akan diketahui padat penebaran yang sesuai.
Dalam praktik, padat penebaran harus ditambah dengan resiko kematian. Angka cadangan 10 – 30 %.
Untuk menghitung padat penebaran digunakan rumus :

D = P/G + M
Keterangan :
D = padat penebaran
P = daya produksi kolam
G = pertambahan daging ikan per ekor yang diharapkan
M = mortalitas               

Sumber Pustaka : E.A. Djuwanah,1996. Budidaya Ikan Secara Polikultur. Trubus Agriwidya. Ungaran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT PROBIOTIK RABAL (Ragi dan Bakteri Asam Laktat)

PROFIL POKDAKAN "BANYUMILI"

PEMBAGIAN MANGSA DALAM KALENDER PRANOTO MONGSO DAN WATAK / SIFAT TIAP MANGSA