FALSAFAH POHON


Samar  saya masih teringat sebuah renungan energi suara Gede Prama – seorang motivator terkenal itu. Judulnya adalah Falsafah Pohon.  Setidaknya banyak makna yang dapat diambil bila kita berkaca pada sebuah pohon.

Rantingnya hidup harmoni tanpa kompetisi, batangnya menyangga tanpa meminta, dan yang paling mengagumkan adalah akar. Akar diinjak, cari makan buat yang lain dan yang paling menyentuh adalah rela tidak kelihatan. Buah yang lebat, pohon yang kokoh, daun yamg rimbun adalah sanjungan yang diberikan pada sebuah pohon. Namun tak sekalipun akar disebut.

Boleh jadi kalau saya gambarkan peran “akar” ini melekat pada sosok petani. Mungkin pandangan ini bersifat subjektif, namun tak apalah toh ini hanya sekedar pendapat pribadi.

Petani (padi dan hortikultura) adalah penghasil makanan yang kita konsumsi, baik beras maupun sayuran. Begitu mulianya peran petani karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Apa jadinya bila di dunia ini orang berbondong-bondong meninggalkan profesi petani?

Apakah petani merupakan sebuah profesi yang ‘empuk’? Anda tentu sudah tahu jawabannya. Bertani adalah pekerjaan lapangan, butuh fisik yang prima, siap dipanggang panas mentari ataupun berbasah ria diguyur hujan. Belum lagi daerah yang kondisi airnya terbatas, butuh pengorbanan yang lebih. Pun juga untuk menuai hasil, harus rela bersabar hingga bulanan. Sebuah waktu yang tidak singkat. Apalagi fluktuasi harga yang terkadang terkesan tidak bersahabat.

Namun, apabila hasil berlimpah ruah siapakah tokoh yang akan dianggap paling berjasa?! 

Tidak heran Kahlil Gibran pernah menulis akar adalah bunga makna terindah yang pernah tercipta.

Jayalah petani Indonesia, Makmurlah negeriku tercinta !!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT PROBIOTIK RABAL (Ragi dan Bakteri Asam Laktat)

PROFIL POKDAKAN "BANYUMILI"

PEMBAGIAN MANGSA DALAM KALENDER PRANOTO MONGSO DAN WATAK / SIFAT TIAP MANGSA