QURBAN
Idul Adha merupakan salah satu hari raya umat muslim, dimana pada hari tersebut dimeriahkan dengan pemotongan hewan qurban. Di Indonesia, hewan yang biasa dijadikan sebagai hewan qurban adalah sapi dan domba. Aktivitas yang sudah menjadi rutinitas tahunan - bahkan sudah menjadi tradisi - perhelatannya semakin marak dari tahun ke tahun. Hal itu terbukti dari semakin banyaknya jumlah hewan qurban yang dipotong seiiring meningkatnya kemampuan daya beli (baca : taraf hidup) masyarakat.
Sebagai seorang penyuluh - yang bergerak dalam bidang pertanian dalam arti luas : mencakup tanaman pangan, peternakan dan perikanan - , mungkin tidak pada tempatnya apabila tulisan ini lebih dititikberatkan untuk menyoroti kegiatan qurban dalam sudut pandang agama secara mendalam. Ulasan yang dimaksud tentu lebih disesuaikan dengan kapasitas penulis dan programa kerja dalam sektor pangan.
Satu hal yang pasti dari hikmah Idul Adha adalah peredaran daging yang lebih banyak dari hari biasa, dan terdistribusi relatif merata untuk masyarakat luas mencakup semua strata. Hal ini tentu sangat menggembirakan mengingat melalui momen ini tingkat konsumsi daging meningkat, meski hanya berlangsung dalam hitungan hari. Konsumsi daging yang meningkat tentunya berdampak pada terpenuhinya asupan gizi - dalam hal ini protein - sebagai salah satu upaya menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Namun sungguh sayang, Indonesia dengan kekayaan alam yang luar biasa ternyata adalah salah satu negara dengan tingkat konsumsi daging yang masih rendah. Padahal daging adalah sumber utama protein hewani yang bermanfaat bagi tubuh kita - tentu dengan mengesampingkan efek pola makan yang tidak sesuai anjuran kecukupan gizi. Bahkan, agama pun - dalam momen Idul Adha melalui pembagian hewan qurban - menyiratkan anjuran untuk mengkonsumsi daging. Lantas kenapa kita masih belum mentradisikan konsumsi daging?
Barangkali harga daging yang relatif mahal adalah alasan utama. Namun, tidak adakah cara untuk mensiasati atau bahkan sebagai solusi atas permasalahan di atas?
Menurut hemat penulis, ada 2 cara yang dapat ditempuh - dengan tingkat kesulitan masing-masing - sebagai langkah konkret mensiasati permasalahan tersebut.
Yang pertama adalah menuju swasembada daging ternak (sapi, kambing, domba, ayam dll). Asumsinya adalah dengan ketersediaan daging yang melimpah tentu berdampak pada makin kompetitifnya harga di pasaran. Memang tidak mudah mencapainya, apalagi kendala utama yang dihadapi peternak adalah tingginya harga pakan. Dalam hal ini, tentu saja semua stakeholder yang berkepentingan hendaknya dapat bersinergi, duduk bersama mengambil langkah tepat menuju win-win solution memecahkan permasalahan ini.
Yang kedua adalah mengkonsumsi ikan. Ikan juga merupakan sumber protein hewani yang sangat bermanfaat, hanya saja mungkin 'kelas'nya masih di bawah hewan ternak lainnya. Peningkatan konsumsi ikan juga sesuai dengan salah satu program pemerintah yakni "Gemar Makan IKan".
Sebagai seorang penyuluh - yang bergerak dalam bidang pertanian dalam arti luas : mencakup tanaman pangan, peternakan dan perikanan - , mungkin tidak pada tempatnya apabila tulisan ini lebih dititikberatkan untuk menyoroti kegiatan qurban dalam sudut pandang agama secara mendalam. Ulasan yang dimaksud tentu lebih disesuaikan dengan kapasitas penulis dan programa kerja dalam sektor pangan.
Satu hal yang pasti dari hikmah Idul Adha adalah peredaran daging yang lebih banyak dari hari biasa, dan terdistribusi relatif merata untuk masyarakat luas mencakup semua strata. Hal ini tentu sangat menggembirakan mengingat melalui momen ini tingkat konsumsi daging meningkat, meski hanya berlangsung dalam hitungan hari. Konsumsi daging yang meningkat tentunya berdampak pada terpenuhinya asupan gizi - dalam hal ini protein - sebagai salah satu upaya menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Namun sungguh sayang, Indonesia dengan kekayaan alam yang luar biasa ternyata adalah salah satu negara dengan tingkat konsumsi daging yang masih rendah. Padahal daging adalah sumber utama protein hewani yang bermanfaat bagi tubuh kita - tentu dengan mengesampingkan efek pola makan yang tidak sesuai anjuran kecukupan gizi. Bahkan, agama pun - dalam momen Idul Adha melalui pembagian hewan qurban - menyiratkan anjuran untuk mengkonsumsi daging. Lantas kenapa kita masih belum mentradisikan konsumsi daging?
Barangkali harga daging yang relatif mahal adalah alasan utama. Namun, tidak adakah cara untuk mensiasati atau bahkan sebagai solusi atas permasalahan di atas?
Menurut hemat penulis, ada 2 cara yang dapat ditempuh - dengan tingkat kesulitan masing-masing - sebagai langkah konkret mensiasati permasalahan tersebut.
Yang pertama adalah menuju swasembada daging ternak (sapi, kambing, domba, ayam dll). Asumsinya adalah dengan ketersediaan daging yang melimpah tentu berdampak pada makin kompetitifnya harga di pasaran. Memang tidak mudah mencapainya, apalagi kendala utama yang dihadapi peternak adalah tingginya harga pakan. Dalam hal ini, tentu saja semua stakeholder yang berkepentingan hendaknya dapat bersinergi, duduk bersama mengambil langkah tepat menuju win-win solution memecahkan permasalahan ini.
Yang kedua adalah mengkonsumsi ikan. Ikan juga merupakan sumber protein hewani yang sangat bermanfaat, hanya saja mungkin 'kelas'nya masih di bawah hewan ternak lainnya. Peningkatan konsumsi ikan juga sesuai dengan salah satu program pemerintah yakni "Gemar Makan IKan".
Komentar
Posting Komentar